Tujuan Bimbingan Konseling

Dikutip dari : dosenpendidikan.co.id

Tujuan Bimbingan Konseling

Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah:

  • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
  • Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengansaling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
  • Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), sertadan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
  • Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
  • Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
  • Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
  • Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.
  • Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah :

  • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
  • Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
  • Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
  • Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
  • Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
  • Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.

Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah :

  • Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.
  • Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir.
  • Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.
  • Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.
  • Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
  • Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
  • Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, makadia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut.
  • Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki.

Fungsi Bimbingan Konseling


yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secaraoptimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.


  • Fungsi Preventif

yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.


  • Fungsi Pengembangan

 yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),home room, dan karyawisata.


  • Fungsi Penyembuhan

yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.


  • Fungsi Penyaluran

yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.


  • Fungsi Adaptasi

yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.


  • Fungsi Penyesuaian

yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.


  • Fungsi Perbaikan

yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.


  • Fungsi Fasilitasi

 memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.


  • Fungsi Pemeliharaan

 yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli.


Manfaat Bimbingan Konseling

  1. Bimbingan konseling akan membuat diri kita merasa lebih baik, merasa lebih bahagia, tenang dan nyaman karena bimbingan konseling tersebut membantu kita untuk menerima setiap sisi yang ada di dalam diri kita.
  2. Bimbingan konseling juga membantu menurunkan bahkan menghilangkan tingkat tingkat stress dan depresi yang kita alami karena kita dibantu untuk mencari sumber stress tersebut serta dibantu pula mencari cara penyelesaian terbaik dari permasalahan yang belum terselesaikan itu.
  3. Bimbingan konseling membantu kita untuk dapat memahami dan menerima diri sendiri dan orang lain sehingga akan meningkatkan hubungan yang efektif dengan orang lain serta dapat berdamai dengan diri sendiri.
  4. Perkembangan personal akan meningkat secara positif karena adanya bimbinga konseling.

Asas Bimbingan Konseling


  • Asas Kerahasiaan (confidential);

yaitu asas  yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik  (klien) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini, guru pembimbing  (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin,


  • Asas Kesukarelaan;

yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu.


  • Asas Keterbukaan;

yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien)  yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). Agar peserta didik (klien) mau terbuka, guru  pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan  dan kekarelaan.


  • Asas Kegiatan;

 yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan  yang diberikan kepadanya.


  • Asas Kemandirian;

yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling; yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan  bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri, dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan diri sendiri. Guru Pembimbing (konselor)  hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.


  • Asas Kekinian;

yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling  yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarangKondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien)  pada saat sekarang.


  • Asas Kedinamisan;

yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.


  • Asas Keterpaduan;

yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Dalam hal ini, kerja sama dan koordinasi  dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaik-baiknya.


  • Asas Kenormatifan;

yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma, baik norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan,  dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. Bahkan lebih jauh lagi, melalui segenap layanan/kegiatan  bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.

  • Asas Keahlian;

yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.  Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan   dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.


  • Asas Alih Tangan Kasus;

yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan  kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain. Demikian pula, sebaliknya guru pembimbing (konselor),  dapat mengalih-tangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten, baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah.


  • Asas Tut Wuri Handayani;

yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya  kepada peserta didik (klien) untuk maju.


Prinsip Bimbingan Konseling


Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli.

Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).


Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.


Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.


Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.


Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan.

Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.


Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.


Demikianlah artikel dari dosenpendidikan.co.id mengenai Fungsi Bimbingan Konseling : Pengertian, Tujuan, Manfaat, Asas, Prinsip, Definisi, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

Webnar ; ” Emosi untuk ditaklukan”

Kegiatan Webnar yang dilakukan oleh tim konseling BK SMK N 1 Tonjong di masa pandemi covid 19 kian berkembang, Pembelajaran Jaran jauh (PJJ) online tentunya juga berimplikasi pada tim konseling untuk mengimbangi model konseling di masa pandemi ini. Bu Yuyun Tri Ratna, S.Pd sebagai salah satu guru BK ternyata begitu antisipasif dalam eksistensi tugasnya untuk memberikan konseling meskipun siswa tidak bertatap muka langsung. Kegiatan PPGJ BK yang sekarang sedang beliau ikutipun sangat dimanfaatkan untuk menambah wawasan konseling seperti kegiatan Webnar yang akan beliau lakukan dengan mengambil topik “Mengendalikan Emosi, Emosi untuk ditaklukan”. Kegiatan ini akan diselenggaran pada tanggal 17 November 2020 pukul 09.00 WIB di SMK N 1 Tonjong, sukses selalu Bu Yuyun, demikian panggilan akrabnya dan tentunya lulus PPGJ dengan hasil memuaskkan. ( Fgh).

Pemilihan Ketua OSIS Periode 2020/2021 daring menggunakan Aplikasi Google Form

Salah satu program penunjang edukatifrekreatif dalam melatih siswa-siswi berorganisasi adalah Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Untuk mewujudkan program tersebut, SMK Negeri 1 Tonjong mengadakan kegiatan Pemilihan Ketua OSIS ”Pemilos” periode 2020/2021. Kegiatan pemilihan ketua OSIS SMKN 1 Tonjong ini akan dilaksanakan secara Daring menggunakan aplikasi Google Form. Acara dibuka dengan penyampaian visi misi dari kandidat calon Ketua OSIS yang akan dilaksanakan pada hari Senin, 2 November 2020

Sekolah Uji Coba Tatap Muka

26 Oct 2020, 10:47 WIB

Sekolah diharapkan berkomitmen menjaga protokol kesehatan.

SEMARANG — Puluhan sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat di Jawa Tengah dan Jawa Barat memulai simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) pada Senin (7/9). Simulasi tersebut dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat dan pembatasan jumlah siswa serta jam belajar. Simulasi tersebut akan dijadikan bahan evaluasi untuk penerapan PTM pada masa pandemi Covid-19.

Di Jawa Tengah, sebanyak tujuh sekolah di Kota Tegal, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Temanggung melakukan simulasi tersebut. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Padmaningrum, mengatakan, tujuh sekolah tersebut bakal melaksanakan simulasi selama dua pekan. Setelah itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bakal melakukan evalusi.

Dalam simulasi itu, pembelajaran tatap muka di masing-masing sekolah hanya maksimal diikuti oleh 100 siswa. Sementara siswa lainnya masih harus mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Padmaningrum menilai, secara umum simulasi yang dilakukan pada Senin berjalan dengan baik dalam penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. “Kalau melihat langsung hari (Senin) ini,

Padmaningrum berharap simulasi tersebut bisa dilaksanakan dengan baik selama dua pekan. Dengan begitu, ke depan proses pembelajaran secara tatap muka di tengah situasi pandemi tetap berlangsung membahagiakan tanpa ada beban bagi siswa maupun guru di sekolah.

“Harus tetap bahagia jangan ada beban dan yang penting semua yang ada di lingkungan sekolah juga semakin terbiasa dengan penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19,” kata Padmaningrum.

Di Kota Tegal, ada tiga sekolah yang melaksanakan simulasi PTM, yaitu SMAN 2 Kota Tegal, SMKN 2 Kota Tegal, dan SMA Pius Kota Tegal. Kepala SMA Pius, Lidwina mengungkapkan, sekolahnya telah mempersiapkan pembelajaran tatap muka sejak tahun ajaran baru yang lalu, kendati kegiatan dan belajar di sekolah sementara dihentikan akibat pandemi Covid-19. 

Saat simulasi pembelajaran tatap muka diizinkan, segala kebutuhan untuk penetapan protokol kesehatan telah matang dan sudah siap. Mulai dari sarana dan prasarana yang dibutuhkan, seperti peralatan pendukung kesehatan, pengaturan ruangan dengan penerapan jaga jarak fisik hingga sarana pendukung lainnya.

“Sarana untuk mendukung protokol kesehatan di sekolah kami sudah siap, mulai ruangan siswa, APD guru, ruang isolasi, dan sarana dan prasarana seperti cuci tangan, hand sanitizer, juga alat cek suhu tubuh semuanya sudah lengkap,” katanya.

Lidwina menjelaskan, selain membatasi hanya 100 siswa, tidak ada aktivitas di sekolah, selain hanya proses pembelajaran yang dimulai pukul 07.00 hingga pukul 11.00 WIB. Selama pelaksanaan simulasi, kantin sekolah juga tutup dan pihak sekolah juga bekerja sama dengan aparat kelurahan setempat dan pihak terkait untuk mengontrol para pedagang yang ada di luar lingkungan sekolah. 

“Jadi, siswa hanya pergi belajar dan setelah itu langsung pulang dengan kendaraan pribadi atau mengendarai sendiri,” lanjutnya. Penerapan yang sama juga dilakukan di SMAN 2 Kota Tegal. 

Di Kota Sukabumi, Jawa Barat, ada 28 SMA dan SMK yang menggelar uji coba PTM kemarin. “Mulai Senin ada sebanyak 28 sekolah yang mulai menerapkan uji coba pembelajaran tatap muka,” ujar Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Jawa Barat Wilayah V, Nonong Winarni, kemarin.

Nonong menjelaskan, dalam simulasi itu, setiap sekolah hanya boleh PTM pada tiga hingga enam rombongan belajar. Setiap rombongan belajar maksimal hanya 12 orang siswa. Pelaksanaan uji coba ini, kata dia, dilakukan selama empat jam setiap harinya, yaitu mulai pukul 07.30 WIB hingga 11.30 WIB.

Selain itu, siswa diharuskan diantar jemput oleh orang tua. Hal ini menjadi salah satu persyaratan dalam pembelajaran tatap muka, di samping sebelumnya ada izin dari orang tua.

Sekolah yang mulai tatap muka terbatas itu di antaranya SMA Negeri 1 Kota Sukabumi, SMA 2 Sukabumi, SMA 3 Kota Sukabumi, SMA 4 Kota Sukabumi, SMA 5 Kota Sukabumi, SMA Islam al-Azhar, SMA Islam Nurul Karomah, SMA Islam Terpadu Insani, SMAS Advent Sukabumi.

Kemudian, SMA IT-Alizzah SMA Mardi Yuana Sukabumi, SMA Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah, SMK Negeri 1 Kota Sukabumi, SMK Negeri 2 Kota Sukabumi, SMK Negeri 3 Kota Sukabumi, SMK Negeri 4 Kota Sukabumi, SMK IT Amal Islam, SMK Kesehatan Tunas Madani, SMK Pasim Plus, SMK Pelita YNH, SMK Persada, SMK PGRI 1 Sukabumi. Selanjutnya, SMK Plus an-Naba, SMK Terpadu Ibaadurrahman, SMKS Komputer Adi Bangsa Sukabumi, SMKS Plus Bina Teknik YLPI Sukabumi, SMKS Priority, dan SMKS Teknologi Plus Padjadjaran Sukabumi.

Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi mengatakan, pemkot akan melakukan pengontrolan terhadap sekolah yang melakukan uji coba pembelajaran tatap muka terbatas. Harapannya, sekolah tersebut komitmen dalam menjaga protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

”Pengontrolan juga sebagai bahan selanjutnya untuk pembelajaran tatap muka SMP sederajat,” kata Fahmi. Sebelum melakukan uji coba pembelajaran, sekolah tersebut telah lolos verifikasi tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Sukabumi dan gurunya menjalani tes swab

  • Fuguh2020 -Sumber ; https://www.republika.id/posts/10014/sekolah-uji-coba-tatap-muka

Hino Donasikan Alat Peraga ke SMK di Subang dan Purwakarta

Oleh: Muhammad Abdul Majid · Kamis, 1 Oktober 2020 18.02

Hino Indonesia mendonasikan alat peraga ke dua Sekolah Menengah Kejuruan di Subang dan Purwakarta, Jawa Barat. Donasi ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pengembangan dan penggunaan sumber daya manusia di Indonesia.

“Hino Indonesia mendukung program pendidikan vokasi link and match dari Kementerian Perindustrian yang melibatkan dunia industri dengan Sekolah Menengah Kejuruan,” kata Presiden Direktur Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) Masahiro Aso dalam keterangan resmi, 30 September 2020.

Alat peraga yang didonasikan berupa peralatan praktik bongkar pasang transmisi dan bongkar pasang ban.

Alat praktik tersebut dipergunakan sebagai sarana penunjang proses belajar mengajar bagi siswa/siswi SMK. Mereka diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuan para siswa/siswi sehingga menjadi lulusan SMK yang terampil dan siap untuk memberikan kontribusi pada kemajuan Provinsi Jawa Barat khususnya Kabupaten Subang dan Purwakarta.

Penyerahan peralatan praktek ini merupakan wujud nyata Hino Indonesia dalam mendukung program pendidikan vokasi link and match antara SMK dengan Industri. “Langkah ini merupakan wujud nyata Hino Indonesia turut serta dalam pengembangan sumber daya manusia di Indonesia,” kata Direktur HMMI Kristijanto.

Fgh – Sumber: https://otomotif.tempo.co/read/1391733/hino-donasikan-alat-peraga-ke-smk-di-subang-dan-purwakarta/full&view=ok

154 lulusan SMK lulus seleksi administrasi beasiswa Otsus Papua

Oleh: Muhammad Abdul Majid · Selasa, 6 Oktober 2020 09.25

Pemerintah Provinsi Papua kembali mengumumkan 154  siswa  lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang akan menjadi penerima beasiswa Otonomi Khusus  Papua. Sejumlah 154 pelajar itu dinyatakan lulus administrasi penerimaan Siswa Unggul Papua Bidang Vokasi 2020.

Dalam pengumuman Nomor: 421.1/18035/SET yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua, sejumlah 154 siswa dinyatakan lolos seleksi administrasi program Siswa Unggul Papua (SUP). Mereka selanjutnya bakal mengikuti seleksi lanjutan yang akan diselenggarakan pada 8-9 Oktober 2020.

“Ditujukan kepada peserta seleksi Siswa Unggul Papua Bidang Vokasi tahun 2020 yang dinyatakan lulus seleksi administrasi, agar menyiapkan diri mengikuti  seleksi lanjutan,” demikian isi pengumuman yang ditandatangani Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Provinsi Papua, Doren Wakerkwa di Kota Jayapura, Papua, pada  Jumat (3/10/2020).

Seleksi lanjutan pada 8-9 Oktober 2020 itu akan digelar di gedung SMK Negeri 2 Kotaraja Kota Jayapura. Materi seleksi itu berapa Tes Potensi Akademik (TPA) yang terdiri dari tes Verbal dan Numerik, kemudian tes bahasa Inggris dasar.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Papua, Aryoko AF Rumaropen mengatakan, penerimaan siswa unggul Papua Bidang Vokasi merupakan program baru yang mulai digagas tahun ini. Program itu bertujuan untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi internasional.

“Sebelumnya program SUP digabung antara pelajar SMU dan SMK. Namun tahun ini dipisah,” ujarnya.

Rumaropen menyatakan seleksi administrasi penerimaan SUP Vokasi dilakukan secara daring (online). Dalam proses seleksi itu, Pemprov Papua bekerjasama dengan Sagu Foundation. “Program vokasi bagi pelajar SMK ini berkerjasama dengan lembaga pengembangan vokasi di Australia dengan melibatkan Sagu Foundation,” jelas Aryoko Rumaropen.

Rumaropen menjelaskan, 154 pelajar SMK yang lulus administrasi adalah pelajar asli Papua dari 7 wilayah adat di Tanah Papua. Mereka memiliki berbagai latar belakang kompetensi keahlian, seperti jurusan Manajemen Perkantoran, Analis Kesehatan, Teknik Ketenagalistrikan, Teknik Bangunan, Teknologi Pesawat Udara.

Program SUP Vokasi 2020 juga menaring para siswa sekolah kejuruan Pariwisata, Teknik Komputer dan Infromatika, Teknik Bangunan, Pelayaran, Usaha PErjalanan Wisata, Teknik Komputer dan Jaringan, Jasa Boga, Teknik Instalasi. Selain itu, juga ada para siswa kejuruan Tenaga Listrik, Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura, Agribisnis, Peternakan, Teknik Elektro, Multimedia, Teknik Konstruksi dan Properti, Teknologi dan Rekayasa, Teknik Gambar, Teknik Mesin, Administrasi Perkantoran serta Teknologi Komputer dan Jaringan.

Direktur Utama Sagu Foundation Tisha Rumbewas, mengapresiasi program pendidikan yang digencarkan Gubernur Papua Lukas Enembe dan Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal itu. Rumbewas menyatakan animo pelajar orang asli Papua mengikuti seleksi beasiswa Otsus bidang vokasi sangat tinggi, di mana jumlah pendaftar seleksi program itu mencapai 600 lebih siswa lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Dari database Sagu foundation, pelajar SMK yang mendaftar cukup tinggi. Sesuai akun yang terdaftar sebanyak 678 orang. Dari jumlah itu, 154 dinyatakan lulus administrasi. Mereka akan mengikuti seleksi tahap dua,” jelas Tisha, Senin (5/10/2020).

Tisha menambahkan para pelajar SMK yang nantinya lulus seleksi program SUP Vokasi 2020 akan menjalani pembinaan selama enam hingga delapan bulan, sebelum mengikuti pendidikan vokasi di Australia. “Pelajar yang lulus seleksi TPA dan Bahas Inggris akan mulai masuk pembinaan awal November 2020 hingga Juli 2021. mereka disiapkan untuk mengikuti pendidikan vokasi berbasis kompetensi internasional di Australia,” ujarnya

fgh- Sumber : https://jubi.co.id/154-lulusan-smk-lulus-seleksi-administrasi-beasiswa-otsus-papua/

Kemendikbud Apresiasi Sistem Ijon Siswa SMK ala Ganjar Pranowo

Oleh: Muhammad Abdul Majid · Senin, 14 September 2020 08.38

JAKARTA – Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto mengapresiasi langkah Pemprov Jawa Tengah untuk percepatan perkawinan massal SMK dengan dunia industri.

Pemprov Jateng bersama Kawasan Industri Kendal (KIK) berkolaborasi, salah satunya mengembangkan sistem ijon siswa SMK/Vokasi. “Kami apresiasi Gubernur Jateng Pak Ganjar Pranowo yang ikut mempercepat implementasi tuntas kebijakan dan gerakan Link and Match dunia pendidikan dengan dunia industri serta dunia kerja (IDUKA),” kata Wikan, Senin (14/9).

Sistem iijon yang didorong Pemprov Jateng, lanjut Wikan, sangat selaras dengan beberapa strategi dasar Link and Match, yang dilakukan bersama oleh satuan pendidikan vokasi dengan IDUKA.

Yaitu sinkronisasi kurikulum, menghadirkan guru atau dosen tamu dari kalangan industri minimal 50 jam per prodi per semester, program magang/prakerin minimal 1 semester di IDUKA. Juga uji kompetensi atau sertifikasi kompetensi bagi seluruh lulusan vokasi, guru dan dosen vokasi.

“Sistem Ijon merupakan perwujudan konsep cerdas dan taktis yang merangkum minimal 4 strategi dasar Link and Match tersebut, diharmonisasikan dengan pemaknaan local wisdom yang mudah dipahami dan dicerna oleh seluruh pihak dan stakeholder,” bebernya. Wikan berharap, lewat perkawinan massal pendidikan vokasi dengan IDUKA bisa melahirkan jutaan lulusan vokasi yang kompeten dan unggul.

Sebelumnya, Pemprov Jateng dan Presiden Direktur Kawasan Industri Kendal (KIK) talah menandatangani MoU pada Selasa, 8 September 2020. Kerja sama ini meliputi penyelarasan kurikulum SMK yang link and match dengan kebutuhan industri,  pemagangan guru dan praktik kerja lapangan peserta didik, pengembangan kelas industri, sertifikasi kompetensi lulusan SMK dan rekrutmen tenaga kerja lulusan SMK pada industri. Jangka waktu kerja sama selama 5 tahun. Saat ini di Jawa Tengah angka  keterserapan lulusan SMK di dunia usaha dan industri sebesar 62 persen.

Sebanyak 13 persen melanjutkan ke perguruan tinggi. Sedangkan 25 persen terbagi menjadi wirausaha mandiri dan masa tunggu.

fgh – sumber : https://www.jpnn.com/news/kemendikbud-apresiasi-sistem-ijon-siswa-smk-ala-ganjar-pranowo?page=2

Kemendikbud: Pendidikan Vokasi Percepat Lulusan SMK Peroleh Kerja

Oleh: Muhammad Abdul Majid · Jumat, 18 September 2020 08.24 

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud), Wikan Sakarinto mengatakan, bila pendidikan vokasi memperoleh dukungan dari seluruh pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia. Maka, pendidikan vokasi akan naik kelas, tak hanya dari sisi kualitas, tetapi mempercepat lulusan Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK) bisa memperoleh pekerjaan di dunia kerja.

” Pendidikan vokasi dianggap berhasil, jika siswa dan siswi SMK sudah memiliki sistem keterserapan yang baik bagi lulusannya. Hal itu ditandai dengan keterampilan lulusan sekolah yang menarik perhatian industri,” ungkap Wikan dalam keterangan resminya, seperti melansir Kemendikbud.go.id, Kamis (17/9/2020). Salah satu Pemprov yang telah menjalankan adalah Jawa Tengah (Jateng). Maka dari itu, Wikan mengapresiasi Jateng yang sudah mempercepat pelaksanaan link and match antara dunia pendidikan dengan pelaku industri, dunia usaha dan dunia kerja (IDUKA).

Pemrov dukung revitalisasi SMK

Pemprov Jateng bersama Presiden Direktur Kawasan Industri Kendral (KIK) Stanley Ang telah menandatangani nota kesepahaman pada Selasa, 8 September 2020 lalu. Kedua belah pihak bersepakat untuk bekerja sama dalam melakukan percepatan kualitas pendidikan vokasi, termasuk menjalin kerja sama dan sinergi antara SMK dengan dunia usaha dan industri.

Guna mendukung revitalisasi SMK, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah membentuk Tim Kerja Pembinaan dan Pengembangan Vokasi yang beranggotakan terdiri dari unsur pemerintah daerah, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), kalangan dunia usaha dan industri, perguruan tinggi, praktisi dan pemangku kepentingan pendidikan vokasi.

Saat ini, di Jateng angka keterserapan lulusan SMK di dunia usaha dan industri sebesar 62 persen, selebihnya 13 persen melanjutkan ke perguruan tinggi, dan 25 persen terbagi wirausaha mandiri dan masa tunggu. Program yang dibangun KIK, lanjut dia, selaras dengan strategi dasar link and match, yang dilakukan bersama oleh satuan pendidikan vokasi dengan IDUKA.

Harmoni Kearifan Lokal

Adapun strategi tersebut mencakup sinkronisasi kurikulum, kehadiran guru atau dosen tamu dari kalangan pakar (industri) minimal 50 jam per program studi (prodi) atau semester, ketersediaan program magang minimal satu semester di IDUKA, serta adanya uji kompetensi atau sertifikasi kompetensi bagi seluruh lulusan vokasi, dan bagi guru dan dosen vokasi.

“Sistem ini merupakan perwujudan konsep cerdas dan taktis yang merangkum minimal empat strategi dasar link and match tersebut. Diharmonisasikan dengan pemaknaan “Local Wisdom” yang mudah dipahami dan dicerna oleh seluruh pihak. Link and match akan menguntungkan seluruh pihak, khususnya pihak IDUKA, serta masa depan dan karir lulusan di dunia kerja,” jelas Wikan.

Dia meyakini, lulusan-lulusan yang benar-benar match dengan kebutuhan IDUKA, maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa.

“Semoga perjuangan kompak dan cerdas seluruh pihak ini, akan mempercepat lahirnya jutaan lulusan vokasi yang kompeten dan unggul secara signifikan,” tukas Wikan.

fgh – sumber : https://www.kompas.com/edu/read/2020/09/17/143055171/kemendikbud-pendidikan-vokasi-percepat-lulusan-smk-peroleh-kerja.
 

SMK Akan Disinkronisasi dengan Jenjang D2

Oleh: Muhammad Abdul Majid · Rabu, 23 September 2020 18.18 ·  84

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melakukan sinkronisasi pendidikan SMK dengan jenjang Diploma Dua (D2). Program ini memungkinkan siswa SMK bersekolah bahkan selama 4,5 tahun sehingga bisa mendapatkan gelar D2 setelah lulus.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto mengatakan, gagasan tersebut mempertimbangkan pola pendidikan vokasi di Jepang. Bahkan, ketika menempuh pendidikan di jenjang vokasi, siswa dapat menempuh pendidikan hingga jenjang S2 terapan di luar negeri. “Jadi SMK dinikahkan massal dengan D2. Seperti SMK di Jepang, SMK lima tahun,” ucap Wikan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Meski begitu, program ini tidak memperpanjang masa studi di SMK hingga lima tahun. Wikan mengatakan, siswa dapat memilih apabila lebih cocok ke hands on, praktikal, tapi tetap ada teorinya bisa masuk SMK bisa sampai ke D4 atau bisa sampai ke S2 terapan di Jerman atau di Taiwan dan sebagainya.

Wikan menuturkan, selain untuk menyelaraskan pendidikan jenjang SMK dengan D2, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan soft skill dari lulusan SMK. Kemendikbud berkomitmen melakukan link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri.

Wikan menyebut ada lima syarat minimal agar link and match antara pendidikan vokasi dan dunia industri dapat terjadi. Ia menjabarkan, syarat pertama terciptanya link and match antara vokasi dengan dunia industri adalah pembuatan kurikulum bersama. Di mana kurikulum tersebut harus disinkronisasi setiap tahun dengan industri. “Harus disetujui,” katanya.

Kedua, pihak industri wajib memberikan guru atau dosen tamu. Minimal pengajaran dari dosen dan guru tamu ini dilakukan minimal 50 jam per semester. Syarat ketiga, pemberian magang kepada siswa SMK dan mahasiswa vokasi dari industri yang dirancang bersama. Wikan mengatakan, pihaknya mewajibkan magang minimal satu semester. “Jangan sampai tiba-tiba industri cuma disodori magang suruh terima saja, tidak dari awal sudah dirancang (bersama),” ucap Wikan.

Kemudian syarat keempat adalah sertifikasi kompetensi. Menurut Wikan, kompetensi merupakan hal yang sangat penting untuk lulusan vokasi. Sertifikat dibutuhkan untuk menunjukan level kompetensi lulusan vokasi. Syarat yang kelima adalah komitmen menyerap lulusan sekolah vokasi oleh industri. “Paket link and match hingga level menikah yang kami rancang yaitu mengembangkan teaching factory. Jadi teaching industry masuk ke dalam kurikulum,” tutup Wikan.

Wikan menegaskan, link and match antara pendidikan vokasi dan industri tidak hanya sekadar tanda tangan MoU, foto-foto kemudian masuk koran. Ia menganalogikan pada hubungan dua orang yang sedang berpacaran dan sampai pada jenjang menikah. Dengan konsep lima syarat tersebut. Wikan menargetkan 80 persen lulusan pendidikan vokasi dapat terserap ke dunia industri. Sedangkan 20 persen lainnya bisa berbisnis atau ke pekerjaan lain. “Sekarang ada 90 persen ada, 70 persen ada,” ujarnya.

Wikan mengungkapkan, saat ini terdapat stigma bahwa lulusan sekolah vokasi bakal menjadi pengangguran. Dirinya mengatakan anggapan ini dapat terbantahkan dengan peningkatan kompetensi siswa SMK melalui link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia industri. “Kompeten artinya lulusan itu sudah berani bilang aku bisa apa, bukannya ini ijazahku. Kalau dia bilang ini ijazahku, itu artinya dia (hanya) bilang aku sudah belajar apa,” katanya. Oleh karena itu, melalui link and match ini, Wikan berharap lulusan SMK akan memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh industri.

Fgh-Sumber: https://www.nusabali.com/berita/81301/smk-akan-disinkronisasi-dengan-jenjang-d2